CATEGORIES:

Senin, 30 Januari 2012

HIJRAH

Postingan ini dibuat karena gue sedang merasa benci luar biasa dengan negara gue sendiri. Gue benci dengan para politikusnya yang hanya mementingkan urusan pribadi atau golongan, gemar menghamburkan uang rakyat, tidak memberikan tauladan yang baik. Gue benci dengan pemimpin negara ini yang gue rasa tidak punya rasa cinta dan nasionalisme untuk rakyat dan negaranya. Gue benci karena negara yang gue tempati selama berpuluh-puluh tahun tidak naik peringkat dari predikat negara berkembang.

Gue prihatin dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang rendah. Gue prihatin dengan tingkat intelegensia dan kepedulian masyarakat negara gue yang rendah. Gue ingin marah saat mereka dengan seenaknya membuang sampah sembarangan, mengotori lingkungan, mencemari udara, tanah, laut, dan sungai.
Tidak sadarkah mereka bahwa bumi yang mereka pijak sekarang ini hanya pinjaman dan titipan untuk masa depan anak cucu mereka?

Gue frustrasi melihat sistem birokrasi di negara ini. Gue frustrasi melihat kesemrawutan lalu lintas dan buruknya fasilitas transportasi di negara ini. Gue frustrasi dengan gaya hidup penuh gengsi dan kesenjangan yang ada di negara ini.

Ya. gue memang kecewa. Gue merasa sebagai korban. Gue merasa punya hak untuk hidup layak sesuai standar yang gue inginkan, dan hal tersebut tidak bisa gue wujudkan di negara ini.

Gue ingin pindah. HIJRAH.

Gue tidak peduli dibilang bergaya dan sombong. Gue memang merasa sangat bersyukur bisa memiliki kesempatan 2 kali untuk bisa pergi mengunjungi negara Eropa. Kesempatan yang begitu berharga diberikan pada gue untuk mengetahui bahwa ada harapan di luar sana. Bahwa ada harapan untuk gue menjalani hidup yang seperti gue impikan.

Impian hidup yang gue dambakan bukanlah hidup penuh gelimangan harta dan posisi karier yang cemerlang. Gue hanya ingin menjalani hidup dimana gue bisa bernafas jernih dan tahu bahwa negara yang gue tempati dipimpin oleh seseorang yang penuh integritas dan berpikiran maju.

Tidakkah kita semua ingin seperti itu?

Gue merindukan bisa bepergian dengan transportasi rakyat yang bersih, teratur, dan minim kriminalitas. Dimana saat gue menggunakannya tidak ada stigma atau kesan bahwa yang menggunakan transportasi umum adalah rakyat jelata.

Gue merindukan pemerataan ekonomi di segala wilayah. Tidak ada kesenjangan ekonomi dan sosial yang mencolok. Gue ingin saat gue berjalan di trotoar, gue tahu bahwa udara minim polusi yang gue hirup bukanlah kebetulan semata, tapi karena kepedulian untuk menjaga dari masyarakatnya.

Gue ingin tiap harinya, gue tahu bahwa air bersih yang gue tenggak, tanah yang gue pijak, dan semua unsur lingkungan yang tetap terjaga kebersihannya bukanlah karena kebetulan semata, tapi karena kehendak seluruh masyarakatnya.

Karena itulah mataku kini terbuka. Mengapa aku harus membatasi dimana aku harus menghabiskan sisa hidupku? Mengapa aku terus berpikir bahwa selamanya aku akan tinggal di negara ini?

Home is where my heart is. And my home is Indonesia. But i won't spend all my life feeling miserably to live in here.

I need to move. May God speed my will and efforts. AMIN.

Selasa, 17 Januari 2012

SURAT UNTUK SAHABAT

Saat aku mengetik surat ini, aku harus melayangkan ingatanku ke masa kurang lebih 1300 tahun yang lalu sebelum masehi.....


Hehehe.... i'm kidding...

Tidak sampai beratus-ratus tahun yang lalu, hanya kurang lebih 13 tahun yang lalu. Tapi rasanya baru terjadi kemarin ya?:)

Saat aku menginjakkan kaki pertama kali di gedung setengah tua SMA kita, aku tak pernah menyangka bahwa aku akan menemukanmu.

Aku coba untuk merunut ke belakang bagaimana awal kedekatan kita. Kalau aku tak salah semuanya terjadi sudah dari tahun pertama SMA, kan? Kita dekat gara-gara usahaku menyomblangkan teman sekelas kita ke kamu. Iya, sebut saja teman kita namanya Ani:). Karena Ani sudah menjadi teman dekatku dari SMP, dia lalu cerita kalau dia menyukaimu. Lalu aku menawarkan diri untuk menjadi mak comblangnya.

Tapi sayang, gayung tak bersambut karena cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi, hikmahnya gara-gara itu kita jadi dekat, kan?

Mak comblangnya malah yang jadi dekat dengan target operasinya. Klise sekali, ya? :)

Aku juga masih ingat saat itu kamu menyukai cewek dari kelas seberang. Cewek itu memang tipikal favorit cowok-cowok di sekolah. Putih, cantik, tinggi semampai, berambut panjang.

Saat itu rasanya aku ingin berteriak di depan mukamu. Kenapa sih kamu menyukai seseorang hanya karena penampakan luarnya yang begitu bagus? Kenapa kamu gak sadar bahwa ada sosok di depan kamu yang diam-diam tulus menyukai kamu?

Tapi saat itu teriakanku hanya berakhir menggema di relung-relung hatiku tanpa pantulan suaranya bisa terdengar oleh kamu.

Memasuki tahun kedua SMA, ternyata takdir mempertemukan kita lagi di kelas yang sama. Kita jadi lebih sering mengobrol di kelas. Aku menikmati tatapan curiga dari teman-teman sekelas yang melihat kita sering mengobrol berdua saat jam pelajaran kosong. Kujawab dengan senyum semua rasa penasaran mereka.

Tapi, tak dapat kupungkiri betapa cemburu dan kesal begitu mengusik ketenangan batinku saat melihat kamu akrab mengobrol dengan teman-teman cewek yang lain saat jam pelajaran olahraga ataupun jam pelajaran kosong lainnya.

Semua gadis ingin merasa spesial dan istimewa, dan saat kulihat kamu berakrab diri dengan yang lainnya, aku merasa hanya sebagai sosok biasa yang hanya kau ingat saat kau ingin saja.

Pesta ulang tahunku yang ke 17. Ingatkah kamu apa yang terjadi saat itu? Potongan kue ulang tahun pertama yang kusuapkan untuk kamu? Padahal saat itu kamu datang dengan pacarmu, dan dia adalah bahkan teman baikku. Untungnya setelah itu tidak ada drama, setidaknya menurut sepengetahuanku :)

Gara-gara kejadian itu, mamaku tahu bahwa ada kalimat yang lebih panjang dari sekedar kata "sahabat" untuk menjelaskan hubungan kita.

Memasuki dunia perkuliahan, jalur kita tak bertemu di titik persimpangannya. Aku di Jakarta dan kamu di Semarang. Tapi, kita masih menyempatkan diri menukar kabar satu sama lain. Cerita tak ada yang istimewa, apalagi berbumbu drama.

Sampai suatu ketika....

Semua berawal dari friendster. Akun sosial pertama yang booming di Indonesia. Bermula dari pesan friendster yang kamu kirim untuk temanku. Kecemburuan yang selama itu hanya terasa di hati, saat itu akhirnya terucap oleh bibir.

Akhirnya dimulailah drama itu.Partikel-partikel neuron di otakku bersinergi dengan molekul-molekul perasa hati untuk memaksaku menerima kenyataan bahwa aku memang menyukaimu.

Dan sejak itu dimulailah hari-hari penuh gelisah dan gundah itu.

Ingatkah kamu di bulan-bulan terakhir tahun 2005 saat kamu tiba-tiba mengabari ingin datang ke rumahku?

Saat itu aku baru saja datang dari Wonosobo, dan menerima kabar tiba-tiba darimu malam itu membuat kadar adrenalinku melonjak drastis, rasa panikku membuncah tak terkendali.

Bahkan mamaku saja sampai perlu menenangkanku.

Dan akhirnya, setelah 3 tahun kita tak bertemu, akhirnya malam itu kita melepas kangen. Aku ingat malam itu kamu sempat melontarkan canda,

"Kapan kita jadian, Ti?"

Lalu kulontarkan balik candamu,

"Tanggal 32 Desember"

Malam itu kita mengobrol berjam-jam sampai tengah malam. Aku benar-benar bahagia malam itu, masih kuingat rasanya seperti apa sampai detik ini.

Ternyata Tuhan masih mengijinkan kita sempat bertemu lagi di tahun yang sama. Aku masih ingat tanggalnya. 30 Desember 2005.

Aku setengah mati membujuk mamaku agar aku bisa ikut beliau yang waktu itu mau ke Semarang. Akhirnya dengan berat hati mamaku mengijinkan. Rasa rindu untuk bertemu kamu mengalahkan ketakutanku akan resiko kalau mamaku tahu bahwa motifku ikut sebenarnya hanya ingin bertemu kamu. Tapi syukurnya mamaku tak protes, walaupun sebenarnya aku tahu di dalam hatinya menyimpan kegalauan tentang anak gadisnya.

Aku masih ingat pagi itu, setelah sarapan di hotel dan mamaku bersama asistennya pergi, aku lalu menunggumu di kamar hotel sambil sesekali mengecek ke arah parkiran dari jendela kamar.

Ada yang terasa aneh kurasakan saat itu. Perutku seperti dipenuhi puluhan kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari. Aku tahu pasti mereka sedang ingin memberitahuku tentang apa rasanya jatuh cinta.

Lalu akhirnya kamu datang menjemput dengan motormu. Bagaimana rona parasku saat itu?

Berseri seperti langit musim panas?
Atau kamu bisa lihat bintang di bola hitam mataku?

Kamu lalu mengajakku keliling kampusmu dan akhirnya kita lalu mengobrol di kostmu. Kamu akhirnya mengantarkanku balik ke hotel saat hari mulai sore.

Kamu ingat tidak saat itu rinai gerimis hujan menemani perjalanan kita kembali ke hotel? Naik motor berdua dengan kamu dijatuhi rintik gerimis itu..... versi ideal romantisku :)

Hampir 3 tahun setelah itu kita baru bertemu lagi. Pertengahan 2008. Saat itu kamu akan melakukan tes dan wawancara pekerjaan di Cilegon. Di hari terakhir tes, malamnya kamu menginap di kostku. Saat itu aku dan kamu tak berani tidur dan kita memutuskan menyusuri malam dengan terus bercanda dan mengobrol.

Aku adalah orang yang selalu hidup mengikuti peraturan dan tak pernah mau keluar batas kebiasaanku. Tapi malam itu, pertama kalinya aku melanggar kebiasaanku dengan memberi tumpangan kamar padamu.

Esok paginya kamu ikut sarapan di kampusku, teman-temanku semuanya curiga apa saja yang sudah kita lakukan semalam. Aku tak perduli mereka berprasangka apa. Karena kita tidak melakukan apa-apa, berciuman saja tidak.

Malam itu, hanya aku, kamu, dan Tuhan saja yang tahu apa yang terjadi. O,ya...tepatnya Tuhanku dan Tuhanmu.

Dan sekarang detik ini, kita belum bertemu lagi. Jangan tanya tentang rindu di hati. Mungkin rindu itu tak ada bedanya dengan batu. Mengeras dan kronis. Kita tak dipisahkan pulau apalagi lautan, tapi tampaknya takdir memang benar tak berpihak pada kita ya?

Aku masih ingat waktu terakhir kamu meneleponku dari kantor. Bisa dibilang kita sangat jarang berbicara di telepon bukan? Pertengahan 2011. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju Bandung bersama keluargaku. Dan kita sudah lama tak saling berkirim kabar.

Entah kenapa sepanjang perjalanan aku terus teringat kamu. Dan, perjalananku bahkan belum sampai tujuan, saat tiba-tiba ada panggilan masuk di hapeku. Panggilan bernomor kode area Cilegon.

Dan aku terhenyak saat yang kudengar suara di seberang sana adalah suaramu. Mungkin nada sinyal rindu kita begitu kuatnya terhadap satu sama lain, sehingga semesta merasakan getarnya.

Aku masih teringat ucapan mamaku saat aku menutup telepon darimu.

"Mungkin kalian selama ini saling menunggu satu sama lain. Mama doakan semoga kalian ada jalan"

Aku bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa saat itu. Untuk pertama kalinya beliau tiba-tiba seperti memberi lampu hijau. Papaku saja sampai merespon tertawa, padahal dulu beliau begitu diam dan dingin menanggapi kedekatan kita.

Dan kini kamu memberi kabar akan menikah. Dan bukan denganku. Aku masih teringat saat kamu bertanya saat kita chat lewat dunia maya.

Kamu bertanya apakah aku pernah membayangkan kamu jadi suamiku.

Maafkan aku yang berbohong dengan menjawab tidak. Selama bertahun-tahun padahal aku tak pernah berhenti membayangkan kamu jadi suamiku.

Dan aku masih teringat perkataanmu untuk aku,

"Kata orang, sahabat itu sosok yang paling tepat untuk jadi istri"

Maafkan aku yang tak bisa mengabulkan permintaanmu untuk menjadi teman setia sehidup sematimu.

Padahal dulu aku sempat memiliki niat. Niat untuk menemuimu di hari terakhirku melajang. Tapi, ternyata itu cuma khayalan gilaku saja ya.

Tapi aku bahagia kalau kamu bahagia. Aku ingin kamu tahu bahwa hatiku selalu merindu untuk ruangnya kamu isi sepanjang sisa umurku. Tapi ternyata takdir berkata lain, Tuhanku sudah menempatinya lebih dulu, dan Dia tak mau membaginya denganmu.

Doakan aku bisa segera merasakan kebahagiaan sepertimu juga ya.

Teruntuk sahabatku, -MSDH-

Rabu, 21 Desember 2011

99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

"99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa"




Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Pengarang: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Tahun terbit: Juli 2011
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 412 halaman
Kategori: Non Fiksi Islami
Harga: Rp. 69.000,00



~ Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu.
"Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum," ungkap Marion akhirnya. ~


..................................

Kesan pertama saat membaca buku ini adalah saya seperti membaca novel fiksi "Da Vinci Code" karangan Dan Brown. Bukan berarti novel ini menjiplak isi novel fenomenal tersebut, tapi novel ini memiliki tema yang mirip, yaitu penelusuran kisah latar belakang dan misteri yang terdapat dalam ikon historis, perbedaannya adalah dalam novel Hanum dan suaminya ini, mereka menelusuri jejak-jejak histori peradaban Islam di Eropa.

Kisah novel ini berawal dari Hanum yang mengikuti suaminya, Rangga, yang menempuh studi beasiswa doktoral di Wina, Austria selama 3 tahun. Selama 3 tahun itu Hanum mendapat teman-teman baru yang memberinya banyak wawasan baru tentang sejarah peradaban Islam di Eropa. Mulai dari Fatma, teman satu kursus bahasa Jerman yang berasal dari Turki. Ada pula Marion, muallaf Perancis, yang menjadi pemandu wisata saat Hanum dan Rangga menyusuri jejak Islam di Paris. Dan terakhir, Sergio, lelaki tua yang menjadi pemandu wisata saat di Cordoba, Spanyol.

Dalam 3 tahun itu, Hanum menyusuri jejak Islam mulai dari kota Wina, lalu Paris, selanjutnya Cordoba dan Granada, kemudian Istanbul, dan terakhir tapi yang terpenting adalah Mekkah.

Banyak sekali buku-buku panduan travelling ke Eropa, tapi novel ini dengan genre non fiksinya berhasil membuat perbedaan. Selain memberikan pengetahuan baru tentang situs-situs Eropa yang ada kaitannya dengan peradaban Islam, novel ini -melalui gaya berceritanya- juga menciptakan ikatan batin dan pikiran pembaca terhadap perasaan penulisnya dan terhadap sejarah dan situasi yang sedang diceritakan.

Karena bergenre non fiksi , banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil secara langsung melalui kisah nyatanya yang akurat. Selain itu, banyak fakta-fakta tersembunyi -tentang hal yang selama ini kita (pikir)sudah tahu- diungkap di novel ini. Seperti fakta dibalik roti khas Perancis "croissant", atau tentang lambang pariwisata negara Turki yang berupa bunga tulip atau bahkan fakta tersembunyi yang cukup mencengangkan tentang lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus.

Adegan dalam novel yang paling saya suka adalah ketika Fatma, teman penulis yang berdarah Turki, menanggapi tindakan orang yang telah merendahkan agama Islam dan negaranya dengan cara yang tidak disangka-sangka bahkan oleh Hanum sendiri. Dalam adegan tersebut, digambarkan bagaimana Fatma menerapkan prinsip sebagai "agen muslim yang baik" yang kedengarannya mudah, tapi ternyata sangat sulit karena membutuhkan kebesaran dan kesabaran hati.

Dan pada akhirnya, novel ini juga menyadarkan dan membuka hati dan pikiran saya yang membuat saya semakin mencintai Islam.

Saya suka sekali bagaimana penulis di akhir kisah menceritakan dirinya yang masih tetap gundah dan hatinya tetap mengembara bahkan setelah mengelilingi Eropa dan mendapatkan banyak kisah menarik dari perjalanan tersebut.

Hingga pada akhirnya, pengembaraan hati membawanya ke titik nol, sebuah titik dimana peradaban Islam pertama kali berawal di muka bumi, yaitu Mekkah.

Novel ini telah sukses membuka tabir lain sejarah Eropa dan seperti ucap sang penulis, bahwa Eropa bukan sekedar Eiffel atau Colosseum. Eropa sungguh lebih dari itu.

picture taken from:http://www.femina.co.id/shop.dine/pilihan.weekend/99.cahaya.di.langit.eropa/007/004/86

Kamis, 24 November 2011

Pria dan Wanita

Semakin banyak umur gue (dan tentunya plus pengalaman), kehidupan percintaan gue semakin jauh dari keriuhan.

Selain karena sedang jomblo, single, dan pastinya available, gue juga gak butuh lagi drama dan skenario sinetron.

Di sini gue mau membahas tentang hal-hal yang unik dan menarik dari sifat cowok dan cewek yang berperan dalam ritme dinamik kisah percintaan.

Dan pastinya ini semua bersumber dari pengalaman gue yaaaa..... ^_^

Oke pertama gue mau cerita tentang cowok dulu:

Skenario 1:

Hang out dengan beberapa teman+teman2 baru ( yang sama sekali belum pernah bertemu). Satu hal yang perlu diingat adalah pria adalah makhluk visual. Kalau dia ngerasa tertarik dengan seorang wanita, dia gak perlu nunggu waktu lama untuk bisa kenalan dan berusaha berinteraksi dengan wanita incerannya. Jadi kalau dia tiba-tiba milih duduk di samping kamu atau berusaha mancing obrolan dengan kamu , bisa dipastikan dia pasti tertarik.

Skenario 2:

Bertemu dengan seorang wanita di suatu tempat keramaian atau asing. Satu bangku di pesawat atau kereta dengan seorang pria? Atau bersebelahan di kasir supermarket? Kemudian dia berusaha memancing obrolan dan mengajak berkenalan? It's so obvious that he's interested in you.

Skenario 3:

Berkenalan dengan cowok lewat perjodohan atau hasil comblangan.
Girls, if he's interested in you, he will contact you right away as soon as he get ur number.Teori kalo pria bakal nunggu lebih dari 2 hari setelah pertemuan untuk menelepon, bagi gue non sense, kecuali dia tiba-tiba harus bertugas ke hutan Amazon yang sama sekali ga ada sinyal.

Skenario 4:

Ada seorang cowok yang lg pedekate ngajak ketemuan tapi gak pernah mau disuruh mampir ke rumah?

Just get rid of him, girls. Period.

Sebetulnya banyak banget skenario-2 lainnya. Tapi gue ceritain skenario yang paling umum dan paling sering terjadi.

Dua hal yang perlu diingat tentang cowok adalah:
1. Mereka itu makhluk yang "obvious". Kalau mereka suka, mereka akan bilang suka, bahkan bagi cowok pemalu sekalipun. Mereka akan rajin dan terus telepon dan ngubungin. Kalau tiba-tiba tadinya rajin terus menghilang, ada 2 kemungkinan: 1. Mereka sedang nguji perasaan si cewek. 2. Mereka lagi sakit atau punya masalah internal.

2. Mereka ga bisa ngartiin kode apalagi membuatnya. So Girls, don't bother to translate any attitudes or words from them. Just remember, they're tend to be explicit and obvious.

This following ones are for you, girls!

Karakteristik umum cowok:
1. Pria itu suka dipuja dan gak suka diatur. Kesimpulan: Jangan pernah ngasitau apa yang harusnya dilakukan dan tidak dilakukan pada pria.

2. Respon mereka untuk sebuah permasalahan adalah solusi. Kesimpulan: Jangan pernah curhat dengan ngarepin simpati dari para pria.

3. Cara pria nunjukkin kasih sayang beda dengan wanita. Ingat, Pria itu makhluk Mars dan Wanita itu makhluk Venus. Kesimpulan: Kalau pria gak nunjukkin sikap dan perasaan yang sama dengan cara yang kamu harapkan, bukan berarti dia gak cinta. Listen to your heart:)

4. Pria gak suka curhat. Jadi kalau pria jarang ceritain masalahnya bukan berarti mereka gak sayang. Mereka hanya akan curhat hanya kepada orang-orang yang mereka anggap bisa memberi solusi, bukan sekedar simpati.

5. Percayalah pada laki-laki yang mengutamakan tindakan dan tepat waktu. Itu artinya mereka berdedikasi dan berkomitmen pada hubungan.


Now, it's about girls XD....

These ones are for you, boys!

1. Jangan heran kalau banyak wanita banyak jual mahal. Bukan masalah gengsi. Tapi kaum penghuni Venus adalah makhluk yang didominasi perasaan. Lebih banyak make insting dan hobi menganalisa. Para wanita butuh diyakinin dan dibuat percaya bahwa kaum pria yang deketin mereka emang layak dapetin perhatian. Jadi tindakan dan kata-kata penting banget buat seorang pria untuk dapetin perhatian wanita yang diincarnya.

2. Kabar baik buat semua pria di muka bumi. Kalau kalian sekali ditolak, jangan langsung nyerah. Tembok yang wanita buat untuk kalian bukan untuk buat kalian nyerah tapi untuk ngeliat pejuang mana yang paling kuat runtuhin tembok itu.

3. Wanita memang identik sebagai makhluk lemah. Bukan berarti kaum wanita lemah trus gak mampu ngelawan, tapi lemah dalam artian butuh perlindungan. Jadi untuk ngerebut hati wanita sejati, bukan dihujani perhatian yang serba ngerayu atau gombal tapi perhatian yang sifatnya ngejaga atau ngelindungin, seperti mastiin wanita sampai di rumah dengan selamat, ngecek keadaannya ketika sakit, dll.

4. Wanita emang hobi banget mengungkapkan perasaan atau merespon dalam bentuk kode. Inget wanita itu butuh pengakuan dan keyakinan. Jadi semakin pria ngerti dan respon mendekati apa yang wanita maksud dengan kodenya, sang wanita semakin percaya bahwa si pria bener-bener sayang mereka.

5. Saat wanita ngomel atau cerita panjang lebar, jangan dibantah. Dengerin aja. Saat mereka selesai ngomel atau cerita, setelah YAKININ mereka kalau kalian ngerti dengan perasaannya, kemudian PELUK atau CIUM mereka. Wanita pasti percaya kalau kalian memang bener-bener sayang dan rela lakuin apa aja untuk mereka.

6. Wanita kalau sudah bener-bener sayang , sebrengsek apapun kalian, pasti mereka akan tetap bertahan selama kalian gak lepasin mereka. Tapi jangan pernah lepasin wanita yang bener-bener sayang dan rela berkorban perasaan tiap kalian nyakitin dan berbuat seenaknya.

Sekali pria lepasin wanita itu, sang wanita gak akan pernah mau kembali. Karena dengan kalian melepaskan, itu bukti bahwa bahkan pengorbanan dan kesetiaannya sekalipun ternyata sama sekali ga dianggap.

Masih banyak sebenernya poin-poin yang belum diungkap. Postingan ini pastinya bakal berlanjut, meanwhile kumpulin data n fakta dulu yaaa......




Senin, 21 November 2011

weekend....

Sejak resmi berpraktek di RS, gue jadi punya prinsip sejuta umat. "I hate Monday".

Kalau udah hari Minggu, berasa rugi banget kalau gak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pas hari Senen, sering banget gue berpikir. "Doh, kemaren wiken gue gak berasa apa-apa".
Hahahahahhahaha......

Tapi ya sudahlah, kalo dipikirin terus, bisa-bisa hidup gue cuma terpaku ngitungin hari menuju wiken.

Jadi, di sini gue mau cerita tentang wiken kemaren.

Hari sabtu sore bokap (maksa) ngajak kita pergi ke Grage, mal satu-satunya di kota gue, untuk beli sesuatu untuk salah satu Om-nya bokap.

Gue yang baru beberapa bulan pulang ke Cirebon, punya prinsip: kalau gak ada yang perlu banget mesti dibeli, gak bakal gue dengan niat sukarela pergi ke Grage.

Dan, terpaksa deh ya malam minggu kemaren bareng nyokap dan keponakan (anaknya sepupu) pergi ke Grage. Padahal malam itu pas lagi Sea Games U-23 tanding lawan Vietnam.

Hari Minggunya, jadwal beberes rumah. Di tengah-tengah kesibukan membereskan, dia -my bestfriend for 12 years-manggil lewat whatsapp. Niat dia cuma buat gangguin gue dan bikin gue kesel. Ujung-ujungnya, terus dia bilang, "ayo dong senyum, kamu manis kalo senyum soalnya ada lesung pipinya"

Awwwwww.... gue cewek tulen. Cewek tulen itu kalo digombalin pasti seneng. *pembelaan*

Tapi tetep yah respon dari gue galak bin jutek. Padahal dalam hati, senyam-senyum gak karuan. Ahahahahhahahahahak!

Satu lagi yang bikin gue seneng. Salah satu temen gue yang lagi punya masalah sama hubungan dengan pacarnya curhat ke gue. Gara-gara belom direstuin untuk nikah tahun depan dari pihak orang tua sang pacar, rencana nikah temen gue jadi diundur. Gara-gara itu, cowoknya temen gue jadi agak menjauh dan menghindar tiap kali ditelpon. Karena cowoknya temen gue gak mau bahas masalah itu. Mikirin kerjaan aja cowoknya udah pusing, ditambah pula harus dengerin uneg-uneg dari temen gue tentang rencana yang diundur itu. Jadilah temen gue dan cowoknya berantem. Padahal hubungan mereka itu LDR.

Lalu, mulailah gue bertransformasi jadi konsultan pribadi hubungan bermasalah. Gue kasih nasehat dan tips.

Oooowww..... jangan salah. Gue saat ini gak punya pacar dan saat masalah menghampiri hubungan gue dengan pacar saat itu, gue sama buta dan cluelessnya dengan semua orang.

Tapi, seperti pepatah bilang, It's easier said than done. Jadilah gue tetep nyerocos ke temen gue nyuruh ini itu supaya mereka baikan lagi.

Dan, yang bikin surprise-nya. Malemnya temen gue cerita bahwa dia berhasil mempraktekkan semua nasehat dan tips gue dan ujung-ujungnya for the first time cowoknya ngajak webcam-an!

Suatu hal yang cowoknya selama ini ga pernah lakuin sejak mereka menjalin hubungan secara LDR!

She thanked me so much for givin her all those advices...

So, I'm very good at giving tips and advices, right? ahahahahhahahahhak!

To sum up, bisa membuat orang lain bahagia adalah kebahagiaan buat kita juga.

Gak semua kebahagiaan selalu bersumber dari uang. Tapi, kadang, ada aja yang masih menganggap seperti itu.

What a pity......




Rabu, 16 November 2011

A LIE

I hate being tested when i have no choice but to give a big lie as an answer...

My best friend for 12 years- the one i wanna marry so much, but since we have different religion, it becomes impossible to do so- asked me this morning
He asked me if i ever imagined him as my husband.

And i answered: NO

I lied big time.

I hate it so much when i have to do that.

Senin, 10 Oktober 2011

Perjalanan Keliling Eropa

Hai people… been so long not posting anything here
Pertama,karena belum punya sesuatu yang cukup spesial untuk diposting. Kedua, karena kemaren-2 sibuk banget mempersiapkan perjalanan keliling Eropa. Yes! My second trip to Europe. But it’s the first time with the whole family. Super duper Yeaayy!!!....

Tanggal 26 Agustus sampai 18 September kemarin gue sekeluarga ditambah temennya adek gue liburan ke Eropa sekalian ngunjungin kakak gue yang lagi ambil master di Jerman. Kebetulan kemarin itu adalah Europe trip kedua gue dan nyokap. Perjalanan ke Eropa gue yang pertama kali yaitu tahun 2009 dalam rangka ke Jerman (Koln) mengantar kakak gue yang akan mengambil master . Kami berangkat berempat ke Jerman. Yaitu gue, nyokap, kakak gue, dan konsultan pribadi (yang bantu ngurus proses daftar master kakak gue).

Perjalanan keliling Eropa-nya sendiri hanya berdua nyokap di awal bulan Juli. Hanya 3 negara 4 kota. Jerman (Koln dan Hamburg), Inggris(London), dan Perancis (Paris). Oke, mungkin kota yang terakhir gak terlalu bisa masuk kriteria perjalanan yaaa…. Karena apa? Karena gue batal exploring Paris karena nyokap yang mengalami culture shock memutuskan untuk bermalam di bandara Charles de Gaulle untuk kembali ke Koln lagi keesokan paginya.

Oke, cukup review tentang Europe trip yang pertama. Now…let’s flying again to Europe for the second time. It’s vacation time!!...

Europe trip kali ini benar-benar dipersiapkan sendiri tanpa bantuan travel agent, sebetulnya yang pertama juga gak pake travel agent, tapi yang kedua ini jauh lebih matang persiapannya. Selama kurang lebih 3 bulan, gue dan kakak gue menyiapkan segala tetek bengeknya. Untuk masalah pembiayaan kami sepenuhnya serahkan kepada orang tua :D

Untuk perjalanan ke Eropa tentu saja yang bikin stress selain pendanaannya, apalagi kalau bukan masalah visa. Masalah visa ini mencakup surat undangan dan jumlah saldo rekening sebagai tanda kalau kita mampu membiayai kehidupan selama di Eropa.

Saat keberangkatan pada tahun 2009, untuk masalah undangan gue dapet undangan gak resmi dari teman konsultan pribadi kakak gue. Kenapa gak resmi? Karena seharusnya undangan itu dibuat dua macam. Resmi dan gak resmi.Yang resmi itu harus dibuat di kantor imigrasi di kota tujuan di Jerman dengan menyertakan bukti rekening koran sang pengundang dengan jumlah saldo minimal sesuai persyaratan yang ditentukan. Yang gak resmi itu dibuat oleh sang pengundang sendiri ditempel materai (yang terkadang harus dibuat di depan notaris Jerman). Fiuh….Ribetnya mak!

Di tahun 2009, karena kakak gue harus mengikuti kursus Jerman lagi untuk tingkat lanjutan untuk 3 bulan awal, kakak gue udah nyewa dan bayar di muka sebuah kamar (di flat warga lokal) untuk tempat tinggal selama kursus. Maka gue dan nyokap otomatis menyertakan alamat yang sama dengan tempat tinggal kakak gue itu. Ternyata gak diterima! Mereka bilang gue dan nyokap harus menyertakan surat yang menyatakan bahwa kami diijinkan tinggal bersama dengan kakak gue di flat tersebut. Terpaksa deh mesti pulang lagi mengurus kekurangan dokumen.

Kalau untuk Pak Hendra, sang konsultan pribadi, beliau tidak perlu repot mengurus visa. Beliau sudah memiliki Green Card. Karena dulu pernah bekerja di Jerman dan pernah menikah dengan warga negara asli sana.

Sebetulnya surat undangan bisa diganti dengan bukti bookingan hotel. Tapi, gue dan nyokap gak berencana tinggal di hotel selama kunjungan kami 2 minggu disana. Alhamdulillah disaat sedang bingung masalah undangan, tiba-tiba Pak Hendra mendapat kabar bahwa temannya yang tinggal di Jerman sedang pulang ke Indonesia. Beliau adalah Pak Darmono. Pak Darmono sendiri sudah menjadi warga negara Jerman. Jadilah Pak Darmono didaulat untuk membuat surat undangan gak resmi dadakan yang hanya ditempeli materai.
Agak ketar-ketir juga saat nyoba apply visa lagi dengan surat undangan yang baru karena status gak resminya itu. Apalagi Kedutaan Jerman terkenal dengan seleksi ketatnya. Alhamdulillah ternyata lolos visanya.:D.

Aslinya pas nyampe sana, nyokap nyewa flat lagi. Flat ini kepunyaan warga lokal yang kebetulan sedang berlibur ke luar negeri. Terimakasih banyak buat Om Edi (temennya Pak Hendra yang sudah jadi warga Jerman) dan Claudia (tetangga yang punya flat, temennya Om Edi) yang udah bantu nyariin flat. ^^


foto diambil Juli 2009 di rumah Om Edi. Ki-Ka: Pak Hendra, gue, nyokap, istri Om Edi (lupa namanya), Om Edi. 2 anak kecil: anaknya Om Edi: Ariani dan Lukito.

Karena waktu itu gue juga pengen pergi ke London, gue juga apply visa ke kedutaan UK. Sebetulnya ada lagi cerita serunya. Tapi kayaknya terlalu banyak dan bertele-tele kalau diceritain semua di sini ya. I’ll post it later maybe J.

Okay, mari kita kembali lagi ke 2011.
Kembali ke masalah surat undangan. Sebulan gue, nyokap, dan kakak gue memutar otak berusaha mendapatkan surat undangan. Btw, keberangkatan ke Eropa kali ini ditambah satu personel lagi. Yaitu temen kuliah adek gue.Jadi total yang berangkat ada 5 orang.
Sebetulnya kakak gue bisa mengundang, tapi hanya maksimal 2 orang. Maklum, status sebagai mahasiswa dan jumlah saldo rekening yang minim jadi gak bisa undang satu keluarga.
Lumayan stres juga nyari-nyari cara buat dapet surat undangan. Kakak gue punya banyak temen (Indonesia) yang tinggal di Jerman, tapi gak ada yang sanggup buat surat undangan dengan menyertakan saldo rekening yang sesuai dengan syarat untuk mengundang 5 orang.
Dan, voila, tiba-tiba nyokap teringat dengan temennya yang kerja di Deplu. Nyokap iseng-iseng telpon kali-kali aja bisa bantu. Dan, ternyata bisa! Wooaa…vielen danke Tante Elin!
Jadi temen nyokap, Tante Elin ini, punya mantan bos yang sekarang udah jadi Dubes Jerman di Berlin, yaitu Pak Edi. Jadilah kita dibuatin surat undangan. Free! Gratis! Big Thanks untuk Bapak Ayodia (konselor kedutaan RI di Berlin). (Maaf ya Pak, kita gak sempet mampir ke kedutaan L).

Setelah surat undangan jadi dan dikirim lewat email dan semua dokumen lengkap untuk persyaratan mengurus visa, dan capcuslah kita ke Jakarta.Oya, 2 hari sebelumnya udah daftar duluan di website Kedutaan Jerman.

Sebelum masuk kedutaan, gak lupa baca-baca doa komat-kamit.Bukan apa-apa, mau pergi berlima, gak pake travel agent, berharap semoga sekali apply langsung bisa diproses, gak kekurangan dokumen, dan gak harus bolak-balik Jakarta-Cirebon lagi. Dan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, alhamdulillah semua personel dinyatakan lengkap dokumennya.

Proses pembuatan visa di Kedutaan Jerman memakan waktu minimal 10 hari kerja. Dan… yup, dokumen lengkap dan diterima bukan jaminan 100% kalau visa akan didapat. Jadi selama 10 hari deg-degan banget, pasrah-pasrah stres berharap visa lolos.

Jadi sesuai tanggal yang telah dijadwalkan, berangkatlah gue sendiri ke Jakarta ke Kedutaan Jerman. Khusus untuk pengambilan hasil visa,Kedutaan Jerman punya waktu sendiri yaitu pukul 1 siang. Jadilah siang itu,berpanas-panas ria antri mengular dengan orang-orang lainnya di pinggir jalan. Dan, ternyata pas udah sampai di antrian paling depan dan nomor pengambilan gue dicek oleh bapak satpam, dan ternyata hasilnya adalah….. visa gue dan keluarga belum ada keputusan. Grrr…. Bete banget. Udah mana beberapa hari sebelumnya Kedutaan Jerman ini susah sekali ditelpon, dan ternyata belom jadi ajaaa.

Oke, tapi berusaha berpikir positif. Mungkin aja agak lebih lama karena ini permohonan visanya sekeluarga, jadi ya moga-moga diapprove deh.Amin

Gue mutusin untuk balik 10 hari kemudian aja. Jaga-jaga supaya beneran udah ada hasilnya. Kakak gue juga ikut deg-degan di Jerman.Secara dia pengen banget bokap dan terutama adek gue bisa liat gimana cara hidup dan kultur orang-orang Eropa.

Dan alhamdulillah, dengan jantung yang udah kayak mau copot, setelah 10 hari kemudian, gue menaiki tangga ke lantai 2 kedutaan Jerman, danYeaaayyy…semuanya diapproved!

Oya, untuk Europe trip yang pertama gue pergi 2 minggu. Dan yang kedua ini 3 minggu dari 26 Agustus dan sampai di Jakarta 18 September.

Europe, here I come again!
Tanggal 26 agustus lewat maghrib, kami take off dari Cengkareng menuju Frankfurt dengan rute transit di Doha, Qatar. Kami sampai diFrankfurt pukul 06.30 pagi keesokan harinya dan langsung ketemu kakak gue. Dari Frankfurt kami menuju Koln dengan kereta cepat ICE. Kereta ICE ini jenis kereta regional negara Jerman dan negara-negara Eropa lainnya yang berdekatan.

Walaupun sedang summer, tapi Koln sedang hujan terus. Suhu tiap harinya antara 13-19 derajat celcius. Cobaan banget karena hari itu masih puasa. Untung di pesawat gak berhenti dikasih makanan. Dua kali ke Jerman, dan semuanya saat sedang sommer. Jadi berasa aneh banget saat maghrib tapi langit masih cerah layaknya jam 3 sore! Di Koln sendiri maghrib atau matahari terbenamnya baru sekitar jam 20.35

Hari pertama di Koln langsung mengunjungi teman-teman kakak gue yang sudah akrab dengan keluarga yaitu Tante Sri dan Om Darmono (yang membuatkan surat undangan saat ke Jerman pertama kali) dan istrinya Tante Ofa. (untuk Om Edi, maaf ya, selama di Koln ga sempet mampir ke rumahL)

Rumah Om Darmono dan Tante Ofa ini sering menjadi markas kumpul-kumpul mahasiswa Koln terutama yang kuliah di Universitat zu Koln. Jadi kayak semacam ibu asuh J. Tante Ofa sendiri pernah menginap di rumah gue di Cirebon, karena beliau sendiri asli orang Tegal.

Kalau Tante Sri ini adalah mantan ibu “kos” kakak gue.Sebelum pindah ke flat yang sekarang, kakak gue pernah ‘indekos’ di rumah Tante Sri ini. Huwoooww…nice to know that my sister has friends like them.

Hari kedua di Koln gue sekeluarga mutusin buat bersantai sore di pinggir sungai Rhein. Sebelum ke sungai, kami mampir dulu ke Dom atau Cathedral. Di kota-kota di Eropa kebanyakan Cathedral menjadi simbol kota. Karena jaman dahulu, gereja cukup tinggi kedudukannya dalam pemerintahan dan menjadi daya tarik wisata sehingga gereja atau katedral di Eropa dibangun sangat megah.



Katedral-nya Koln yang megah


Rhein on afternoon



Rhein on nighrt




Di atas sungai Rhein, membentang jembatan panjang berbentuk parabol yang terkenal menjadi jembatan gembok cinta. Namanya Jembatan Hohenzollern. Di sepanjang besi pembatasnya digantungi berpuluh-puluh gembok berukir nama pasangan.






Ini dia jembatannya.... ;D

The Europe trip is began!
30 Agustus 2011: Koln – Brussel

Hari pertama petualangan. Kota pertama yang dituju adalah Brussel. Moda transportasi yang dipilih adalah kereta. Kakak gue booking kereta cepat jenis Thalys. Jenis kereta yang biasa digunakan untuk rute Paris-Brussel. Perjalanan memakan waktu 3 jam.


Difoto candid sama bokap di kereta Thalys... .

Hotel yang kami booking berada sekitar 1 km dari stasiun tempat kami turun. Dalam perjalanan mencari hotel dengan berandalkan peta kota, kami sempat dibohongi dan dibuat kesasar oleh 2 pemuda warga lokal keturunan(Maroko) saat bertanya lokasi hotel. Padahal arah yang dituju sudah benar. Untung di tengah jalan, kami sempat bertanya lagi pada bule asli, dan ditunjukkan arah sebaliknya yang benar.

Saat berbalik arah, kami liat 2 pemuda Maroko tadi ternyata ada di belakang kami membuntuti! Rute yang seharusnya lurus dari stasiun ke hotel, gara-gara 2 pemuda itu rute kami jadi berbentuk parabol. Dua kali lebih jauh!

Agenda pertama di Brussel adalah makan siang di kawasan Galerries St. Hubert. Brussel terkenal dengan olahan kerang dan hasil laut lainnya.Selesai makan, kami menuju kawasan Grand Place. Dan… waaww…Grand Place ternyata sebuah alun-alun atau square yang dikelilingi oleh gedung-gedung cantik bergaya kental Eropa. Gak bosen banget ngagumin detail-detail cantik pada bangunan-bangunannya



Salah satu bangunan yang ada di Grand Place...

Grand Place ini ternyata jadi salah satu situs warisan dunia versi UNESCO lho! Gak heran sih, cantik banget soalnya.

Selesai dari Grand Place, kita jalan lagi pengen liat simbol kota Brussel yang terkenal apalagi kalau bukan Mannekin Pis. Dan yah saudara-saudara, Mannekin Pis ini ternyata kecil biasa aja. Cuma patung anak kecil (yang ternyata beneran kecil) yang lagi pipis. Mannekin Pis ini berada di ujung persimpangan jalan.
Dan gue sama sekali gak terkesan. -__- *dihakimin massaBrussel*



Kelar dari Mannekin Pis kita nyari halte Metro terdekat menuju situs Atomium. Situs Atomium ini terletak di pinggiran Brussel. Dan rangka Atomium ini beneran gueeedee bangeett.

Di belakang Atomium ini ada semacam Eropa mini berupa ikon-ikon kota di Eropa yang terkenal kayak Eiffel mini, menara Pisa mini. Gue gak masuk karena tiketnya lumayan mahal kalo mesti berenam. Cukup ngeliat rangka Atomium yang super gede ini aja juga udah seneng…



The great Atomium..

31 Agustus 2011. Paris, here we come!
Saatnya Paris!
Untuk ke Paris gue pilih booking Eurolines. Moda transportasi bus antar negara di Eropa. Brussel – Paris menghabiskan waktu 4 jam. Di Brussel emang cuma semalam aja. Kotanya kecil dan gak terlalu istimewa. Di Paris kami menginap di hotel Etap (grup Accor) di kawasan La Villette arrondissement 19.

Arrondissement ini semacam sebutan untuk pembagian zona dikota Paris.

Sebelum berhasil menemukan hotel Etap, kami sempat nyasar pergi ke daerah La Villette yang ada di luar Paris. Karena ternyata daerah La Villette itu selain ada di dalam kota Paris, juga ada yang di luar kota Paris. Oh my… yang mana akhirnya setelah bertanya ke front office salah satu hotel di sana lalu ditunjukkan rute Metro menuju La Villette yang ada di kota Paris. Fiuh….

Setelah beristirahat sebentar, karena tak ada bayangan mau makan apa dan dimana di Paris, kakak gue mutusin untuk nyari McD terdekat aja.Setelah makan malam, nyempetin buat jalan ke daerah Lafayette. Salah satu area shopping di Paris, yang mana terletak juga gedung pertunjukan Moulin Rouge.


Di persimpangan La fayette...

Halte-halte metro di Paris mempunyai ciri khas. Lorong-lorongnya panjang dan berkelok dan untuk naik turun untuk berpindah jalur banyak menggunakan tangga. Yup… exploring Paris dengan menggunakan metro harus siap ngos-ngosan dan gempor!

Oya, exploring Paris pake metro saat beli tiket, pilih tipe Mobilis aja. Mobilis itu tipe daily ticket. Harga tergantung zona yang mau dituju. Paris terdiri dari 6 zona. Jadi mesti dipelajari peta kotanya.

1 September 2011. Paris day 2.
Eiffel, here we come!

Hari kedua di Paris. Target kunjungan pertama tentu aja Louvre!

Di awal cerita udah gue bilang kan, kalo Europe trip pertama gue gagal exploring Paris. Dan saat akhirnya gue bisa bener-bener melihat piramida Louvre langsung… gak ada kata yang terucap selaen Alhamdulillah!

Di seberang gerbang masuk Louvre ada patung pahlawan wanita Joan de Arc. Tau kan filmnya? Di kanan kiri patung, membentang jalan De Rivoli atau bahasa Perancis-nya Rue De Rivoli. Di sepanjang jalan ini berderet toko penjual souvenir khas Paris.

Joan De Arc..

Area museum Louvre ternyata bener-bener gede, luas dan indah. Gue sendiri gak masuk museum karena antrian udah panjang luar biasa.Cukup berfoto-foto di depan piramidnya juga udah puas! Bangunan khas Eropa yang memagari piramida kaca sangat megah dan cantik. Soalnya bangunan – bangunan klasik ini dulunya adalah kerajaan Tuilleries jaman Raja Charles V berkuasa. Di area museum Louvre ini, di kejauhan juga bisa terlihat menara Eiffel lho, saking tingginya tu menara!




Halaman masuk ke Louvre dari Rue de Rivoli

Salah satu bangunan Louvre..

The Glass Pyramide...

Kelar foto-foto di Louvre, kita capcus ke Notre Dame. Ini juga salah satu Katedral ikon kota Paris yang terletak dekat sungai Seine.Hmmm…masih kalah megah sih dibanding Katedral kota Koln wuihihi…..

Untuk menuju Notre Dame, kita sempet lewatin sungai Seine yang terkenal di Eropa selain Rheine.





the river Seine



Berhubung hari masih sore dan langit masih terang benderang, sayang banget kalo langsung pergi liat Eiffel. Jadi kita mutusin naik metro lagi ke jalan yang tersohor di Paris. Champ Elysees!

Champ Elysees ini juga merupakan area shopping yang paling terkenal di Paris. Jalannya membentang panjaaaannnggg sekaliiii. Kanan kiri berjejer pertokoan dan asri karena sepanjang jalan ditanami pohon maple. Keluar dari tangga halte stasiun metro langsung disambut oleh patung Charles DeGaulle.

Di ujung barat dari Rue de Champ Elysees ini ada ikon kota Paris lainnya yaitu Arc De Triomphe. Sebuah monumen berbentuk gerbang sebagai tanda peringatan jasa yang dibangun atas prakarsa Napoleon Bonaparte.



Udah puas nyusurin Champ Elysees yang super panjang, kita lalu capcus naik metro turun di Bir-Hakeim. Stasiun metro terdekat menuju Eiffel. Yup, bahkan baru keluar stasiun aja udah langsung keliatan menara yang ternyata bener-bener tinggi dan besar itu. Padahal dari stasiun sampai ke area Eiffel masih ada kurang lebih 1 km lagi. Gue nyusurin jalan sambil gak berenti ngeliat ke atas ngagumin betapa indahnya Eiffel.
Dan saat Eiffel itu ada di hadapan gue…. Dan oh….*speechless*

Gue kira Eiffel cuma segede n setinggi Monas. Dan…oh… oke…there’s no word can describe it. I was overwhelmed mesmerizing that. Once in your life you must go to Eiffel. That’s for sure! And I am so thankful I was given the chance to go there. Alhamdulillah.



Moment paling bagus buat menikmati Eiffel itu setelah matahari terbenam. Di sekeliling menara terbentang lapangan rumput buat bersantai menikmati Eiffel. Jadi bisa sambil piknik gitu ceritanya. Dan romantis banget nikmatinnya. Dan… ya.. ehm…jauh lebih romantis lagi kalau bisa nikmatin bareng pasangan sih…. :I

Dan jangan buru-buru pergi dari Eiffel walopun udah malem. Sekitar jam 9 malem, ternyata Eiffel ada atraksi lampu kerlap-kerlipnya! Bener-bener pemandangan malam yang ciamik banget!
So, to sum up… I just wanna say… Once in ur life you must go to Paris. It worths everything. Paris is a “must visited’ city in Europe. And surely worths the Bucket List as well! J






2 September 2011. Bienvenudos en Barcelona!
And it’s time to fly to Barcelona!
Untuk ke Barcelona gue pake budget airline, Ryan Air. Berangkat dari bandara kecil di pinggiran kota Paris, Beauvais ke bandara El Prat Barcelona. Bandara El Prat ini keren desainnya. Agak sedikit berbeda dengan tipe bangunan Spanyol yang mostly bergaya mediterania, bandara El Prat berdesain futuristik hampir mirip dengan bandara Frankfurt. Walaupun El Prat masih kalah luas dari Frankfurt.

Dari El Prat menuju pusat kota gue pake Aero Bus. Salah satu layanan shuttle bus yang ada di El Prat. One way per orang 5,5 euro. Kalo return jadi cuma 8 euro. Di Barcelona banyak sekali apartemen yang disewakan untuk turis. Gue booking apartemen dari layanan Booking.com. Ternyata pas udah masuk apartemennya, kok sedikit beda ya dengan tampilan di website. Pas ditanya ke pemegang kuncinya, dia malah bilang apartemen mana yang kamu liat di website? Lah…dasar -__-

Agenda pertama di Barcelona adalah pergi ke Sagrada Familia. Sagrada Familia ini adalah ikon katedral Barcelona. Dibangun dari tahun 1882 dan belum selesai sampai sekarang. Desainnya oleh Gaudi. Tapi tetep yah, pas udah liat langsung kok ya masih bagusan katedral yang di Koln? Sagrada Familia ini menurut gue, ga semegah imej yang gue dapet dari cerita orang-orang di website. Walaupun banyak sekali detail-detail bangunan yang unik dan cantik yang beda dengan gereja atau katedral Eropa pada umumnya.




Kelar dari Sagrada Familia, iseng mampir ke toko souveniryang ada di deket situ. Pas liat-liat kartu pos kok ada lukisan kartu pos bergambar istana dan air mancur. Keliatannya cantik banget. Setelah dicek,ternyata istana itu ada di daerah Montjuic.

So, berangkatlah kita kesana setelah mempelajari peta.

Montjuic itu sendiri ada di pinggiran Barcelona dan terletak di atas dataran tinggi. Daerah Montjuic gak termasuk cakupan rute utama metro kota Barcelona. Jadi setelah turun dari kereta metro di stasiun terakhir, kami naik lagi kereta tarik otomatis masih di stasiun yang sama. Kereta ini hanya ditarik oleh semacam katrol dan beroperasi setiap beberapa menit.

Keluar dari stasiun kami celingukan gak ngerti kemana arah ke istana. Setelah membaca peta yang ada di stasiun, akhirnya kami menyusuri jalan menurun ke arah kiri. Udah jalan jauh, kok gak ada tanda-tanda istana itu ya? Di papan penunjuk jalan pun gak ada keterangan arah istana. Tapi banyak orang-orang bergaya turis yang ngelewatin kami terus menuruni jalan. Kami lalu bertanya ke 2 ABG muda yang kayaknya warga lokal, kemana kalau mau liat istana dengan air mancur, ternyata memang bener, masih harus menyusuri jalan lagi.

Sepanjang jalan menuju istana air mancur ini bener-bener gelap lho. Tapi, anehnya gak merasa mistis n seram sedikitpun hehehe…. Berasa aman banget di Eropa. Setelah jalan agak jauh lagi, gue ngedenger suara gemericik air di kejauhan.

Dan ternyata bener.
Setelah buru-buru lari gak sabar, di depan gue terbentang pemandangan cantik. Di dataran yang sama tempat gue berdiri, terdapat bangunan cantik khas Eropa yang ternyata adalah museum seni. Pantas 2 anak ABG tadi gak ngerti pas gue tanya arah istana. Dan membentang ke bawah dari museum ini adalah taman yang dirancang sangat cantik dan rapih. Dan di bawah sana, gue melihat kolam air mancur yang lumayan besar. Banyak orang udah duduk-duduk di tangga depan air mancur.



Museum Seni dan tamannya di foto dari bawah


Atraksi air mancur..

Setelah puas foto-foto bersetting museum dan taman, gue dan keluarga turun ke bawah dan ikut duduk menikmati konfigurasi air mancur berwarna. Keren banget konfigurasinya apalagi ditambah semburan airnya yang berwarna-warni. Dan juga pake back sound lagu berbahasa latin. Aduuuhh iniromantisnya ga ketulungan. Pas larak-lirik kanan kiri, bule2 udah pada saling pelukann rangkulan. Duuuuuhhh…jadi bikin sirik abiiissss >.<.


Setelah puas nonton air mancur, lanjut sesi foto-foto sekitar museum. Duh, area sekitar museum juga ciamik banget buat background foto. Gara-gara keasyikan jeprat-jepret, jadi lupa waktu. Buru-buru pulang ke stasiun metro yang buat dateng kesini tadi. Dan pas sampe di depan pintu stasiun, ternyata stasiunnya udah tutup! Metronya sendiri 24 jam, tapi kereta tarik penghubung otomatis ke metro itu yang udah gak beroperasi lagi.

Akhirnya kita nurunin jalan yang sama lagi, nyari stasiun metro terdekat. Tapiiii….setelah jalan, jalan, dan, jalan…. Kok stasiun metronya kenapa gak ketemu-ketemu yah? Padahal adek gue kayaknya udah bener perhatiin peta. Dan, yak karena gak ketemu tuh stasiun metro yang terdekat, akhirnya bener-bener jalan muterin setengah kota buat pulang ke apartemen.Sukses kena omelan nyokap + kaki gempor luar biasa
-_-

3 September 2011
Camp Nou Experience!

Pagi-pagi udah melenggang bayam ke Camp Nou. Sempet browsing kalo tiket tour+museum seharga 11 euro. Dan adek gue rencana pengen beli jersey Barcelona.

Maka berangkatlah gue, adek gue, dan temennya adek gue, Dita (cowok,red). Gue bawa uang 103 euro untuk beli jersey adek gue dan bayar tiket.

Begitu sampai di Nou Camp, adek gue dan Dita langsung ke toko merchandise dan beli jersey. Untuk jersey yg bernama harganya 99 euro, tanpa nama 81 euro. Kelar belanja, langsung menuju loket tempat beli karcis tour, dan langsung pengen pingsan di tempat karena ternyata harga karcis perorang adalah 22 euro!

Biar ga jadi ikut tour, yang penting tetep harus foto XD
Duit tinggal persis 22 euro. Dan si Dita euronya setelah dikurangi bayar tiket,tinggal 8 euro yang terbawa. Jadi gak bisa minjem jugaakk! Apes deh! Terpaksa gigit jari dan ngerelain adek gue dan Dita tour berdua sementara gue nunggu di kafe di dalam kompleks stadion selama 2 jam

Balik dari Camp Nou janjian sama kakak gue n bonyok di Catalunya. Catalunya ini adalah area shoppingnya Barcelona. Di sebrang alun-alunnya ada jalan memanjang yang terkenal di Barcelona. La Rambla.

La Rambla ini persis suasananya kayak Champ Elysees, tapi dengan atmosfir yang lebih down to earth. Karena di sepanjang La Rambla ini gak ada bangunan-bangunan megah seperti di Champ Elysees.



The famous street: La rambla


Di Barcelona sempet nyobain makanan khasnya yaitu Paella(read: paeiya). Paella ini makanan berupa nasi yang dibumbu rempah dan diberi campuran udang dan kerang. Rasanya mirip-mirip nasi padang, cuma lebih lezat karena pake udang, kerang, dan potongan cumi. Enak untuk lidah Indonesia.

Btw, kalau disuruh milih kota Eropa mana yang pengen ditinggalin, gue bakal pilih Barcelona. Kotanya cukup nyaman, cuaca gak terlalu ekstrim. Gak terlalu panas dan gak terlalu dingin. Dan satu lagi, harga-harga barangnya gak terlalu mahal untuk ukuran negara-negara Eropa.

4 September 2011. Flying to Venice!

Untuk ke Venice gue pake Ryan Air lagi. Landing di bandaraMarco Polo. Khusus untuk Venice harga tiket transportasi harian ada kategorinya. Kami membeli tiket untuk 72 jam dengan 2 kategori, yaitu tiket untuk orang tua dan dibawah 29 tahun.

Kami menginap di hotel Vienna di luar pulau Venice, di daerah Mestre. Selesai beristirahat dan menaruh barang di hotel, kami naik bis ke Venice

Musim panas adalah musim berlibur dan Venice tentu saja sangat padat dan penuh. Lorong-lorong bangunan dipenuhi arus turis yang berjalan hilir mudik. Agak gak nyaman yah, jadi gak terlalu bisa menikmati jalan-jalannya.

5 September 2011: Murano!
Murano adalah pulau yang berjarak sekitar setengah jam-an dari Venice. Berangkat dari Venice menggunakan bus air atau yang disebut vaporetti. Murano merupakan pulau industri kaca atau lampu. Banyak kerajinan berupa asesoris dan peralatan rumah tangga terbuat dari kaca. Setiap yang ke Venice, belum lengkap rasanya kalau belum ke Murano.

kerajinan unik dari kaca di tengah kota Murano


Kelar dari Murano, kami makan siang di Ae Oche. Resto pizza franchise. Pizza khas Itali pastinya. Btw, beberapa resto di Eropa akan mengcharge tempat duduk. Dan Ae Oche adalah salah satunya. Tidak terlalu mahal sih, sekitar 1,5 sampai 2 euro per orang. Rekomendasi gue di Ae Oche ini coba deh Ghiotto. Pizza dengan isian jamur dengan parutan dan lelehan keju. Enak banget! Pizzanya juga bukan bentuk biasa datar gitu, tapi dimodif seperti bentuk pastel raksasa. Mantab!




Venice di sore hari. Bangunan kayu bergaris kuning di seberang adalah halte vaporetti.

Sisa hari itu kami habiskan buat keliling Venice. Katedral di Venice yang terkenal adalah Basilica St. Marco. Tidak terlalu besar dan megah, tapi cukup cantik.





Basilica St. Marco in renovation.

Birdfeeding at St. Marco square

Sebelum pulang, kami nyempetin dulu buat nikmatin view dari atas jembatan Rialto. Jembatan Rialto ini trade mark-nya Venice. Konon, katanyaview terbaik Venice adalah dari jembatan Rialto.
view from Rialto






6 September 2011. Go to Milano!
Dari Venice ke Milan gue pake kereta regional Italia. Turun di stasiun Milano Centrale. Hotel lumayan deket cuma 5 menit-an jalan kaki dari stasiun.

Kelar beberes di hotel, gue, adek gue, n Dita langsung cabut ke San Siro, stadion klub bola Inter Milan dan AC Milan. Sementara bokap, nyokap, dan kakak gue istirahat di hotel.

Begitu keluar dari stasiun Metro terdekat dengan San Siro, adek gue yang tifosi fanatiknya Inter langsung kalap. Sepanjang jalan, adek gue dan Dita teriak-teriak saling lempar omongan.
Contohnya:
Adek gue: “Kita dimana, Bos?”
Dita: “Milan, Bos!”
Adek gue: “Kita mau kemana, Bos?”
Dita: “San Siro, Bos!”
Adek gue: “Kita mau ke stadionnya, Bos! Stadionnya!Bayangin!”
Dita: “Bayangin Sneijder maen di situ, Bos!”
Adek gue: “Jangan lupa Forlan juga , Bos!”
Semuanya diteriakkan dengan nada 8 oktaf.
Dan gue berasa kayak lagi ngawal anak TK yang baru pertama kali maen ke Dufan. --__--

Harga tiket tour stadion dan museum di San Siro adalah 12,5euro. Harga jersey tidak berbeda dengan jersey Barcelona.



San Siro stadion

Berbeda dengan di Camp Nou yang tournya bebas tanpa pemandu, di San Siro ini memakai pemandu untuk tour stadionnya. Ternyata untuk kamar ganti, dekorasi dan peralatan elektronik lebih bagus dan lengkap di ruang ganti AC Milan. Tampaknya Massimo Moratti kurang royal nih untuk anak buahnya :D

7 September 2011.
Kota Milan sebenernya tidak terlalu menarik untuk turis. Tujuan utama ke Milan pun karena adek gue yang pengen ke stadion sebagai fans fanatik Inter. Hari kedua di Milan kami mengunjungi katedral Milan. Dalam bahasa itali yaitu Duomo.

Di Duomo ini sempat temen adek gue, Dita, disodori gelang benang warna-warni oleh penjaja imigran berkulit hitam di dekat tangga keluar stasiun metro. Gelang itu begitu saja dengan sedikit paksaan diikatkan pada pergelangan tangan Dita. Kakak gue yang ngeliat itu langsung nyuruh buru-buru lepasin gelangnya dan disimpen. Ternyata, kakak gue dikasitau oleh teman se-flatnya bahwa nantinya penjaja gelang itu akan berkeliling dan menghampiri lagi ‘korban’ mereka dan meminta 10 euro.

Jadi, jangan sampai tertipu. Tidak ada yang gratis di Eropa.

Di Milan ada semacam benteng kastil yang didalamnya ada taman yang cukup besar. Milan di musim panas suhunya hampir sama seperti diIndonesia. Matahari terasa cukup terik tapi bedanya adalah polusi udara hampir tidak ada.

8 September 2011. Back to Koln.

Pulang dulu ke Koln.

9 September 2011.
Going to Volendam dan Roermond.

Volendam adalah kota kecil di pesisir utara Belanda.Volendam letaknya di tepi laut. Tujuan ke Volendam tak lain tak bukan adalah foto studio dengan kostum nelayan khas Belanda yang sudah sangat umum itu. Ke Volendam kami menyewa mobil tipe wagon untuk 9 orang. Gue, bokap, nyokap, kakak gue, adik gue, Dita, Tante Sri, Tante Ofa, dan Om Darmono sebagai supirnya. Perjalanan Koln-Volendam memakan waktu sekitar 3 jam.




volendam

gerbang masuk designer outlets di Roermond

Selesai dari Volendam, kami langsung meluncur ke Roermond.Tujuan ke Roermond sebenernya cuma sekedar belanja ke Designer Outlet. Sebuah area perbelanjaan khusus di Roermond. Harga sebuah tas Armani bisa lebih murah sekitar 20% disini. Banyak juga produk-produk terkenal lainnya yang dijual dengan harga sedikit lebih murah.
Jarak Roermond-Koln ternyata malah lebih dekat lagi. Jarak tempuh sekitar 1,5 jam.

12 September 2011. Berlin.

Setelah 2 hari wiken bersantai di Koln, waktunya menengok ibu kota. Yup, Berlin!

Koln – Berlin kita naik Germanwings airlines. Salah satu budget airline-nya Jerman. Landing di Schonefeld, bandara kecil di pinggiran kota Berlin.
Kebetulan kita janjian sama anak Cirebon juga, temen kursus Jerman-nya adek gue, Kiki, yang lagi ambil S1 di sana.
Kiki jemput kita di Hauptbahnhof(Stasiun sentral). Dari Hauptbahnhof, kita langsung ke hotel yang udah dibuking lewat Venere.com. Namanya Hotel Kima. Terletak di pusat kota, di daerah Kurfurstenndamm.

Kurfurstendamm ini adalah shopping area-nya Berlin. Hotel Kima lumayan murah untuk ukuran hotel di tengah kota. Pelayanannya juga bagus dan kamarnya cukup nyaman. Fairly recommendedJ.

Dengan adanya Kiki, bener-bener ngebantu gue dan kakak gue banget. Di kota-kota laennya, sebelum kita mulai pergi ke suatu tempat, gue dan kakak gue harus pelajarin peta metro dan peta kotanya dulu. Dan berkat Kiki, khusus di Berlin, gue dan kakak gue terbebas dari tugas dan tinggal ikut kemana Kiki bawa kita :D

Dari hotel, kita makan siang di daerah Zoo Garten, di resto makanan Vietnam. Abis makan, kita mampir ke hotel dulu buat mulangin bokap nyokap yang kecapean dan pengen istirahat. Dari hotel kita langsung capcus ke Brandenburger Tor.

Brandenburger Tor adalah gerbang Berlin dan menjadi simbol kota. Gerbang Brandenburger ini banyak menyimpan sejarah. Gerbang ini adalah salah satu bangunan di daerah Pariser Platz yang selamat dari gempuran saat Perang Dunia II. Gerbang Brandenburger ini dulu juga menjadi batas antara Jerman Barat dan Jerman Timur dan menjadi simbol perdamaian dan penyatuan kembali dataran Jerman.



ki-ka:kiki, me, and my twin sis at Brandenburger Tor

13 September 2011
Agenda hari ini: Sanssouci

Sanssouci adalah situs istana dan semacam taman raya didaerah Postdam, pinggiran Berlin. Dulunya ini adalah bekas istana Raja Friedrich II, Raja dari Prusia. Ternyata Sanssouci ini jadi tempat andalan turis-turis manula. Banyaaakk banget manulanya jarang anak mudanya. Di sini karena males keliling dan saat itu Berlin agak silau dan terik, jadi yang muda asyik tidur-tiduran di rumput, bokap nyokap berdua jalan-jalan di taman.

Sanssouci


Kelar dari Sanssouci, kita ke daerah Zoo Garten lagi, makan siang di tempat yang sama dengan kemarin. Balik lagi ke hotel nganterin bokap nyokap yang pengen istirahat, kita yang muda-muda jalan ke Alexanderplatz.Temen adek gue, Dita, pengen liat menara TV yang menjulang tinggi, dan jadi trademark Berlin juga.

Berlin punya maskot yaitu beruang. Dan di sepanjang jalan Kurfurstendamm, berderet beruang-beruang Berlin terbuat dari semen (kayaknya) dan dilukis dengan detail khas dari hampir seluruh negara di dunia. Beruang-beruang ini disusun berdasarkan abjad. Sempet gak ngeh kalo disusun berdasarkan abjad, akhirnya sadar trus kita nyusurin setiap jalan sambil merhatiin abjad (huruf awal tiap negara) di daerah Kurfurstendamm nyari si beruang bertema Indonesia.Dan akhirnya ketemu! ;D.



Waktu naik metro ke Sanssouci, di tengah jalan, naik seorang kakek yang membawa sepeda. Setelah nyandarin sepedanya deket pintu kereta, beliau lalu jalan ke arah kursi di hadapan gue. Dia lalu menyuruh cewek bule yang duduk di hadapan gue untuk bergeser. Tersisalah 2 kursi kosong (yang otomatis dudukannya langsung terlipat ke atas kalau tidak diduduki). Kemudian dia mulai berpegangan pada palang besi melintang (palang untuk pegangan penumpang berdiri).

Tiba-tiba dengan 2 tangan berpegangan pada palang besi itu, dia mulai menarik dirinya ke atas, naik turun berulang kali seperti gerakan fitness. Otomatis semua penumpang satu gerbong langsung cekikikan tanpa suara.Si kakek kemudian mulai berceloteh dan tiba-tiba dia menengok ke adek gue yangduduk di sebelah cewek bule yang disuruhnya geser tadi. Si Kakek menantang adek gue untuk mencoba hal yang sama. Adek gue menolak dengan senyum-senyum geli. Si Kakek kemudian berceloteh sambil memamerkan ototnya lengannya yang tak seberapa besar.

Kemudian dia melihat Kiki dan menanyakan apakah dia orang Indonesia. Kemudian si Kakek bercerita bahwa dia pernah tinggal di Jakarta 1 bulan. Setelah bercerita dia melanjutkan lagi gerakan fitnessnya.
Gak berapa lama, kemudian si Kakek turun dari kereta dengan masih berceloteh tentang Indonesia. Beliau bilang Indonesia negara kepulauan yang sangat besar dan indah. Saat beliau sudah benar-benar turun, kontan kami semua yang ada di gerbong langsung heboh mentertawakan beliau. Orang Jerman stres ajaib-ajaib kelakuannya… :D

14 September 2011.

Hari ini kami balik lagi ke Koln. Setelah check out, kami nyempetin dulu ke Berliner Dom. Katedralnya Berlin. Berliner Dom memiliki desain yang agak sedikit berbeda dengan katedral-katedral Eropa pada umumnya. Tidak ada menara setinggi angkasa, hanya ada kubah raksasa mirip dengan Basilica St.Marco di Venice.
Setelah puas foto-foto di Dom, kami langsung capcus ke stasiun metro menuju bandara Schonefeld. Kami pisahan dengan Kiki di stasiun. Waaa…. Had a wonderful time at Berlin. Terima kasih spesial untuk Kiki yang udah jadi guide ^_^.
Berliner Dom
15 September 2011.
At Koln.

Jadwal hari ini adalah lunch dengan Vania di resto buffet Asia. Vania adalah teman satu kampus kakak gue dan satu gedung flat juga. Vania ini orang Malang yang bersuamikan orang Koln. Vania sendiri hari itu baru saja mendarat setelah terbang dari Indo. Tapi, saat ketemu, mukanya gak keliatan letih sedikitpun walaupun habis terbang berjam-jam. Gue sendiri udah sempat kenalan dengan Vania lewat telepon dan facebook.

Seperti kebanyakan resto Chinese, cemilan fortune cookies juga tersedia di resto buffet tempat kami lunch ini. Gue iseng ambil dua kali. Sebelum dan sesudah makan. Eh…kok ya pesannya bisa sama 2-2nya?? :0


16 September 2011. Farewell Lunch.

Berhubung besok kami (tanpa kakak gue) akan terbang pulang ke Indo, tante Sri mengundang untuk makan siang di rumahnya. Tante Ofa dan Om Darmono juga diundang.

Hari itu Tante Sri masak soto daging, lamb steak, dan ayam panggang. Aaaakk….makin bulet dan buntel deh nyampe Indo. Lekker banget masakannya Tante Sri. Udah gak peduli, nambah terus yang ada :l

Lumayan sedih juga pas pamitan sama Tante Sri. Tapi beliau janji bakal dateng ke Cirebon kalo pas pulang ke Indo. See you yaaa Tan :D

17 September 2011. Finally going home!

Perasaan akhirnya mau pulang ke Indo gak karuan. Selainseneng kangen rumah, tapi juga sedih karena bakal ninggalin Koln, kota yang nyaman banget dan bikin kerasan. Pengennya sih kakak gue abis selese S2-nyajangan ninggalin Koln biar ada alasan kapan-kapan bisa ke sana lagi, tapi nyokap gak kasih, harus kerja di Indo katanya. Minimal kalo luar, Singapore atau Thailand masih oke. Alasannya biar kalo mau nengok, gak repot urusan dan gak kejauhan jaraknya. *sigh*

Tante Ofa hari itu ikut dateng nemuin kami di halte kereta ICE. Kereta yang bawa kami ke bandara Frankfurt. Sementara Om Dar gak bisa dateng karena mesti kerja dan Tante Sri mesti manggung nari di kedutaan Indonesia di Bonn.

Alhamdulillah…

Perjalanan keliling Eropa selama 3 minggu lumayan lancar,walaupun banyak suka dan duka juga. Buat gue travelling itu yang berharga adalah pengalaman dan sensasi yang lo dapat saat berkunjung ke tempat asing. Ikut berbaur dengan warga lokal dan melihat serta merasakan tradisi dan kebudayaan di setiap tempat. It’s priceless!
So, never stop dreaming. ^_^
See u again, Europe!